Kutipan Media

 

Jawa Pos Radar Solo, 26 Februari 2007
Aspal Buton Dilirik untuk Jalan

 

SOLO - Banyaknya jalan utama penghubung antardaerah yang rusak, membuat pemerintah pusat pusing. Pemerintah menduga, rata-rata jalanan itu rusak karena buruknya kualitas aspal yang dipakai. Oleh karenanya, dalam waktu dekat ini pemerintah akan menganjurkan departemen pekerjaan umum untuk memakai aspal buton, dari pulau Buton, Sulawesi Tenggara. "Umumnya jalan aspal rusak, karena tak tahan dengan cuaca panas Indonesia yang mencapai 50 derajat celcius. Makanya, kalau dilewati siang hari berubah bentuk atau mengelupas," papar Sahdanu Irwan, kepala litbang jalan dan jembatan Departemen Pekerjaan Umum.

Oleh karenanya, pemerintah menganjurkan pemakaian aspal buton karena memiliki beberapa kelebihan dibandingkan aspal yang ada sekarang. Aspal buton mampu bertahan di suhu 60 derajat celcius. Suhu setinggi itu sulit ditemukan di jalan-jalan di Indonesia.

"Dengan (limit) suhu setinggi itu kemungkinan aspal mengelupas atau berubah bentuk akan sulit. Jadi, tak hanya akan dipakai di dalam negeri saja. Kemungkinan untuk diekspor juga ada, demi pemasukan negara," lanjut Sahdanu.

Pemerintah sendiri mempertegas akan penggunaan aspal buton dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah No.35/2006. Isinya, menginstruksikan bina marga dan dinas terkait untuk menggunakan aspal buton dalam pengerjaan pembangunan jalan raya.

Realisasi penggunaan aspal buton ini sendiri akan di wujudkan dalam proyek pengarapan jalan-jalan utama penghubung kota. Kira-kira yang akan dibangun tahun ini sepanjang 10 ribu kilometer, dengan menghabiskan sekitar 100 juta ton aspal buton. "Negara kita memang diberi lebih oleh yang Maha Kuasa. Dalam hal sumber daya alam seperti melimpahnya aspal buton, kita mampu menghasilkan jutaan ton," lanjut Shadanu.

Tapi, aspal buton juga memiliki beberapa kelemahan. Diantara kelemahan itu adalah, aspal ini masih bercampur dengan pasir halus. Kandungan aspal juga hanya 20 persen saja dari kandungan bahan mentah, saat baru digali dari tambang. "Ini yang akan jadi tantangan sekarang. Setelah menemukan aspal tipe baru, tugas kami harus menyempurnakannya," pungkas Shadanu. (mg11)

 

        Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Tengah © 2004